Yayasan Scorpion Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Barat yakni di Gedung Sate Bandung, Senin, mengecam tradisi Adung Bagong atau duel antara babi hutan dan anjing yang banyak diselenggarakan di Jawa Barat. "Kami menilai Adu Bagong` sebagai tradisi yang buruk dan harus dihentikan," kata Direktur Investigasi Scorpion Wildlife Trade Monitoring Pengunggahvideo, Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group, mengklaim bahwa beruang-beruang itu tampak kelaparan. Namun, pihak pengelola kebun binatang, membantah ada beruang yang kelaparan. Mereka mengklaim beruang mereka diperiksa dokter hewan secara rutin. InvestigatorSenior dari LSM Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group, Marison Guciano, menyatakan sisik trenggiling bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan sabu-sabu karena mengandung tramadol HCL sehingga mahal. Pernyataan Marison senada dengan Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Suhadi SW. "Sisik trenggiling digunakan untuk Mereka tidak paham mengenai perlindungan gajah," kata Direktur Investigasi Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Marison Guciano kepada Tirto. Survei Wildlife Conservation Society menyebut populasi gajah liar Sumatera di Taman Nasional Way Kambas Provinsi Lampung Selatan hanya berkisar 247 ekor. Jumlah ini diperkirakan akan terus Sumbergambar, Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Keterangan gambar, Beruang madu di Kebun Binatang Bandung terlihat kurus dan meminta makanan dari pengunjung pada video yang diambil Juli THEWILDLIFE TRADE MONITORING GROUP. scorpionmonitor.org. Wildlife Hotline : +62 812 5055 109. Home; News; Driving Force; About Us; Volunteer Info; SCORPION-THE WILDLIFE TRADE MONITORING GROUP (Yayasan Scorpion Indonesia) Account Name : Yayasan Scorpion Indonesia Account Number : 106-00-1 ScorpionWildlife Trade Monitoring Group net worth, income and Youtube channel estimated earnings, Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group income. ScorpionWildlife Trade Monitoring Group) But Yulius Suprihardo, spokesman for Taman Safari, denied the lion had been drugged, saying most cubs slept for 12 hours a day. Read more: TheScorpion Wildlife Trade Monitoring Group, which shot videos of the bears last year, said it now wanted the zoo closed down. "The bears ate their own dung, this happened because they are very, very hungry," Gunung Gea, director of the Indonesian group, told AFP. Scorpion investigators first raised the alarm after visits in 2016. During a MenurutInvestigator Senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Marison Guciano, perlakuan yang dialami Elsa dan Giring sungguh teramat tragis. Dua Harimau Sumatera yang tercatat dalam Appendix I CITES yaitu spesies yang terancam punah diperlakukan seperti seonggok barang rongsokan yang tidak berguna. hv58M. Posted on 2238 March 20th, 2017The Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group today Monday, 20th of March 2017 carried out a demonstration in front of the headquarters of the Ministry of Environment and Forestry protesting the exploitation of wild animals for entertainment in Indonesia. Participants of the demonstration, which consisted of Scorpion staff and supporters, held various banners saying, amongst other things, “Stop Exploitation of Wild Animals,” “Wildlife, Not Entertainers,” “Animals Are Not Toys,” “Stop Animal Exploitation Now.”The Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group urged the Indonesian Ministry of Environment and Forestry to cease all cruel wildlife shows at the Indonesian zoos and safari parks, including a travelling circus. The wildlife shows include circus tigers, elephants, dolphins, sun bears and the use of wild animals such as tigers and orangutans as photo props. According to the monitoring of the Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group, some zoos and safari parks in Indonesia still carry out wildlife shows or use wild animals for photo props, including in Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor, Safari Park Prigen Pasuruan; Gembiraloka Zoo Yogyakarta; Bali Zoo; and a travelling circus run by Oriental Circus Indonesia and PT Wersut Seguni Indonesia."In addition to endangering the safety of humans, as happened in the incident of a little girl being attacked by a tiger cub recently in East Java, using wildlife in shows is a form of cruelty to animals," said Marison Guciano, Senior Investigator of the Scorpion Foundation. According to Marison, wildlife sows are clearly a form of exploitation of animals. They have a negative impact by creating insensitivity within the public domain regarding the abuse of animals. Shows like this also teach children to regard animals as mere objects to be used and abused for entertainment. They have no educational or conservation value whatsoever.“ In addition,” he said, “animal trainer and showmen frequently engage in negative treatment or punishment such as whipping, beating and striking the animals; forcing them to carry out tricks that are unnatural. These trainers believe that animals can only be "controlled" by pain, hunger and fear. The use of wild tiger cubs for photo opportunities is a cruel practice because the cub is separated from its mother and subjected to unnatural and stressful situations. This could certainly have negative consequences, significantly to the psychological condition of the cubs and the cub’s mother.“Indonesia is between 10 to 20 years behind many other countries which have already improved upon their treatments of wild animals. We need to change this and radically alter our approach to the treatment and welfare of captive animals,” said Programme Director of Scorpion Foundation, Gunung Gea.“The Ministry of Environment and Forestry officers should be listening to all the NGOs that are calling for improvement of animal treatment in Indonesia. It is time for these institutions and government agencies to stand up and take notice. People from all over the world are outraged about the poor treatment of wild captive animals, and Indonesia needs to make a radical change to our approach to this issue,” Gunung Gea © Copyright Global Deal for Nature, a project of Sustainable Markets Foundation Terms Privacy Contact Jakarta - Organisasi non Pemerintah Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group berhasil membantu Polda Metro Jaya membongkar dan menangkap dua sindikat perdagangan satwa langka. Dua sindikat tersebut beroperasi melalui internet dan melibatkan jaringan internasional. Dalam sepekan terakhir, pembongkaran sindikat perdagangan satwa langka ini bermula dari investigasi Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group yang melakukan penyamaran menjadi pembeli satwa langka yang ditawarkan melalui akun Facebook. Scorpion mulai menyelidiki perdagangan online satwa yang dilindungi ini sejak dua bulan yang lalu. Polda Metro Jaya secara keseluruhan berhasil menangkap tujuh pelaku yang terlibat dalam perdagangan satwa langka. Satu diantaranya merupakan warna negara Libya dan satu lagi seorang dokter hewan karantina Bandara Soekarno Hatta. Polisi juga menyita sejumlah satwa yang dilindungi seperti Macan Dahan, Beruang Madu, Owa Jawa, Burung Merak, Alap-Alap dan Kucing Hutan. Investigator Senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Marison Guciano mengapresiasi kinerja Polda Metro Jaya yang sangat cepat dan profesional untuk menuntaskan kasus tersebut. Dirinya berharap, pelaku perdagangan satwa langka bisa dihukum berat. Selain perdagangan satwa langka secara online, Marison juga meminta agar Kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA memberantas perdagangan satwa yang dilindungi di pasar pasar satwa. "Perdagangan satwa yang dilindungi di pasar pasar satwa tidak terkontrol. Scorpion yang melakukan pemantauan perdagangan satwa langka di pasar-pasar satwa setiap minggu selalu menemukan satwa yang dilindungi untuk diperjual-belikan," kata Marison, Minggu 22/11. Dijelaskan, satwa dilindungi yang diperjual belikan diantaranya adalah lutung, elang tikus, elang ular bido, berang berang, dan lainnya. Satwa satwa itu dapat dengan mudah dijumpai karena dijual secara terbuka di dalam kandang kandang berukuran kecil. ‎Pasar pasar satwa yang dipantau Scorpion adalah pasar satwa Jatinegara, Pramuka dan Barito di Jakarta. Satwa satwa dilindungi yang dijual secara terbuka di pasar pasar satwa ini umumnya berstatus CITES Appendix 2, yaitu spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Sedangkan untuk satwa dengan status Apendiks I biasanya diperdagangkan secara tertutup di pasar pasar satwa. Appendix 1 adalah seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Menurut Marison, BKSDA dan Kepolisian harus melakukan razia di pasar pasar satwa secara rutin untuk menekan perdagangan satwa langka yang kian marak. Scorpion sendiri ditegaskan, sudah sering melaporkan perdagangan satwa langka di pasar pasar satwa ini kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta. Namun, laporan tersebut hingga saat ini belum ada tindak lanjut. Perdagangan satwa langka di pasar pasar satwa tetap berlangsung secara terbuka dan tak terkontrol. Sumber Suara Pembaruan Saksikan live streaming program-program BTV di sini